Bekal buat yg sudah / belum atau yg amat sangat ingin sekali Berkeluarga.. :)
August 17, 2008
Tulisan di bawah dakuw ambil dari milis… Abis baca inih rasanya tentremm bgt.. damai… Lumayan buat memotivasi dan memupuk keimanan yg fluktuatif.. ciyyyeee…
Sesuatu yg berhubungan dengan hati dan keimanan emang harus di rawat, dipelihara dan dipupuk… Karena kalo enggak bisa2 nanti malah layu dan jangan2 malah mati.. huhuhu amit-amit jangan sampe.. Karena yang namanya mati hati atau miskin hati itu jauuuuuuuhhhh lebih hina, nista dan susah dari pada miskin harta… Yaudah tanpa memperpanjang lagi, selain emang tulisan di bawah juga udah cukup panjang juga.. langsung aja ya di baca.. Buat bekal kita.. Enjoy it…
^_^
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Assalamu’alaikum bunda, ini adalah suratku untuk mu. Sebuah surat
tentang perjalananku menuju dermaga keikhlasan.
Desiran ombak yang terayun kapal kami terdengar begitu indah
ditelinga. Langit biru berhiaskan awan putih menaungi perjalanan kapal
kami kali ini. Aku berdiri dipinggir kapal memandang sekeliling
samudra kehidupan yang begitu luas. Birunya langit, jernihnya samudra,
dan hembusan angin sepertinya tersenyum padaku. Tak berapa jauh dari
tempatku berdiri, Nakhoda kapal mulai meminta seluruh awak kapalnya
tuk berkumpul briefing sesaat sebelum kami berlabuh pada dermaga
berikutnya.
"Wahai awak kapal ku, sebentar lagi kita akan transit pada dermaga
keikhlasan" seru nakhoda kapal yang tak lain adalah ayahku.
"Dermaga keikhlasan" seru ku di hati. Dermaga seperti apa itu? Aku
belum pernah singgah sebelumnya disana. Dari ceritamu bunda, dermaga
itu begitu indah. Keindahannya begitu mempesona hingga mampu membuat
hati kita menjadi lapang. Membuat diri kita menjadi karpet-karpet yang
empuk yang mampu menyamankan orang-orang yang mendudukinya. Membuat
kita menjadi lebih bijak dalam mengarungi samudera kehidupan. Dan
membuat kita menjadi lebih bahagia dengan sebenar-benarnya kebahagiaan.
"Oleh karena itu, ambilah apa-apa yang bisa kita ambil di dermaga
tersebut, simpanlah dalam gudang cadangan bahan bakar kehidupan kita.
Dan jadikan ia sebagai landasan dalam setiap aktivitas yang kita
lakukan selama kita mengarungi samudera kehidupan ini" lanjut ayahku.
"Are U ready" tanya ayah ku bersemangat
"Yes Kapten" Jawab seluruh awak kapal dengan semangat pula
Aku jadi semakin ingin tahu seperti apakah dermaga itu. Begitu jelas
penekanan kata-kata ayah akan pentingnya dermaga tsb.
briefing pun selesai. Seluruh awak kapal kembali pada posisinya
semula. Akupun mulai mengayunkan langkah kakiku menuju ayah yang
tersenyum padaku.
"Ayah mengapa kita harus singgah di dermaga keikhlasan?" tanyaku penuh
rasa ingin tahu
Ayah tersenyum lembut mendengar pertanyaanku. Beliau terdiam sejenak
sambil terus memandang wajah anak yang dicintainya ini. Tak berapa
lama, suara bijaknya pun mengalun indah. Seindah suaramu bunda yang
selalu menemaniku dengan cerita-cerita kepahlawanan islam.
"Wahai anak ku, kita ini berasal dari Allah dan akan kembali
kepadaNya. Untuk itu kita harus memurnikan penghambaan kita dengan
sebenar-benarnya pemurnian. Agar pada saat kita kembali, Allah ridha
pada kita."
"Lalu hubungannya antara dermaga keikhlasan dengan ridha Allah itu apa
ayah? tanyaku sekali lagi.
Ayah pun tertawa renyah sambil mengusap-ngusap kepalaku lembut. Aku
tahu ayah sedang berpikir keras bagaimana cara menjawab pertanyaan
anak usia 12 tahun ini. Dalam hatiku berkata "ayah tenanglah, bunda
telah mendidikku untuk menjadi pria yang bijak seperti ayah. Agar saat
aku baligh nanti aku sudah benar-benar menjadi orang yang betanggung
jawab (ciri manusia dewasa kata bunda) dan selamat mengarungi masa
remajaku." Bukan begitu bunda!
"anakku, memurnikan penghambaan kita pada Allah itu harus didasari
pada pemahaman yang benar. maka di dermaga keikhlasanlah kita akan
menempa jiwa kita tuk menjadi hamba yang ikhlas. Dan tentu engkau tahu
bukan, bahwa hanya hamba-hamba yang ikhlaslah yang akan Allah ridhoi."
Jawab ayah bijak
aku pun mengangguk setuju. Aku jdi teringat ceritamu bunda tentang
mushab bin umair yang begitu ikhlas hanya ingin mencari keridhaan
Allah dan rela meninggalkan harta kekayaannya demi cinta Rabbnya,
sampai-sampai saat beliau syahid (wafat) beliau hanya memiliki kain
yang bila ditarik ke kepala maka kakinya terlihat dan apabila ditarik
ke kaki maka wajahnya terlihat. Kata bunda Ikhlas adalah meniatkan
segala sesuatunya hanya untuk Allah dan rasulNya. bukan karena ingin
harta kekayaan, dipuji ataupun ingin dianggap ada oleh manusia.
"Engkau adalah lelaki yang kelak akan memimpin dunia, memimpin
keluarga (istri & anakmu), memimpin masyarakat disekitarmu, maka untuk
itu engkau harus memiliki bekalan keikhlasan yang cukup dan tak pernah
habis. Karena hanya dengan bekalan itulah engkau akan bisa menjadi
orang yang bijak, menjadi karpet-karpet empuk bagi orang yang engkau
pimpin, menjadi orang yang adil, menjadi orang yang tegar dalam
menghadapi ujian, dan menjadi orang yang penuh dengan kebahagian."
lanjut ayah
"seperti ayah bukan?" tanyaku menggoda
Kali ini ayah hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Akupun cuma nyengir menunjukkan gigiku :D.
"Seperti Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin" tegas ayah padaku
Itu dermaganya nak, sebentar lagi kita akan merapat disana. Disana
adalah kampung orang-orang yang ikhlas, maka kenalilah mereka dan
ambillah pelajaran dari mereka. Untuk bekalan kita mengarungi samudera
kehidupan ini.
"Are U Ready Son?" Tanya ayah bersemangat
"Yes Ayah" jawabku dengan penuh semangat.
Suara peluit kapal mulai berkumandang "Tuuuuuuut, Tuuuuut,
Tuuuuuuuut". Tanda kapal akan segera merapat. Sekawanan camar tlah
membisikan kata selamat datang padaku, dengan tarian dan nyanyiannya.
Udara dermaga ini memang menyegarkan. Tidak tercium bau amis
sedikitkun. Ajaib sekali seruku dalam hati. Padahal aktivitas nelayan
disini cukup padat. Dalam perjalanan ini aku akan tetap bersama ayah
(karena ini adalah kali pertamanya aku berkunjung ke dermaga ini).
Sementara awak kapal yang lain bebas berkelana menemukan dan
mengumpulkan apa yang mereka butuhkan. Ayah mengajakku ke arah
matahari terbenam. Kata ayah disana ada pantai yang sangat indah.
Pemandangannya tak kan membuatku jemu, kedai-kedainya sangat bersih,
dan orang-orangnya sangat ramah. Kata bunda itu adalah tempat pertama
kalinya mereka bertemu. Aku jadi ingin tahu seindah apakah pesonanya.
Langkah kaki kami terus bejalan menyusuri pantai yang indah. Benar
juga kata ayah pemandangan disini benar-benar indah bunda. Pantas saja
ayah dan bunda senang sekali berkunjung ke pantai ini. Dalam
perjalanan kami, terlihat sebuah kedai yang cukup unik. Kedai yang
bertuliskan "Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu"
"Ayah apakah kita akan kesana?" tanyaku sambil menunjuk ke arah kedai
tersebut.
"Yup benar nak, kita akan kesana, belajar tentang bersandar kepada
Allah, dan mendengarkan kisah-kisah hikmah dari orang-orang yang
menyandarkan harapannya hanya pada Allah.
Kami pun melangkah ke arah kedai tersebut. Sesampainya dipintu kedai,
terpampanglah tulisan yang sangat indah dengan ornament-ornamen laut
yang menghiasinya.
Dari Abu Al-abbas Abdullah bin Abbas ra. Berkata: Suatu hari aku
berada di belakang Nabi saw lalu beliau bersabda, "Nak, aku ajarkan
kepadamu beberapa patah kata. Jagalah Allah, niscaya Dia akan
senantiasa bersamamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada
Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan
kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk
memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat
melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah di tulis oleh Allah
bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu,
niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang
telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan
catatan-catatan telah mongering." (HR. Tirmidzi. Dia berkata, "Hadits
ini hasan shahih.")
Dalam riwayat lain dari Tirmidzi dengan redaksi: "Jagalah Allah,
niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya dihadapanmu. Kenalilah
Allah diwaktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan,
ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa
yang menimpamu tidak akan luput dari mu. Ketahuilah bahwa kemenangan
itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi
cobaan, dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan."
Kami pun masuk ke dalam kedai tersebut. Sesampainya didalam, kami
disambut dengan kehangatan sebuah keluarga yang sangat akrab.
Dipersilakan duduk ditempat, dan dijamu dengan jamuan yang segar.
Alhamdulillah ternyata kami belum terlambat mendengarkan Sesi sharing
experience yang ternyata akan segera dimulai. Kali ini adalah giliran
seorang paman berwajah teduh yang kebagian menceritakan pengalaman
hidupnya. Akupun bersiap-siap mendengarkan hikmah ini. Aku teringat
pesanmu bunda, bahwa aku harus mendengarkan, menginternalisasikan, dan
mengaplikasikannya. Ternyata paman tersebut adalah seorang saudagar
dari negeri seberang. Berikut ini adalah kisah hidupnya.
Aku dulu adalah seorang pedagang yang sangat sukses. Setiap aku
melakukan transaksi maka setiap itu pula keuntungan akan
menghampiriku. Terkadang hal itu menimbulkan kesombongan tersendiri
pada diriku. Aku sangat lalai dalam sholat. Kikir dalam berinfak.
bahkan aku berpikir semua harta yang aku dapat adalah hasil jerih
payahku, tak ada campur tangan Allah di dalamnya. Jika mengingat
masa-masa itu aku benar-benar ingin menangis dan berharap Allah akan
mengampuniku karena dalam kesuksesan itu aku benar-benar dalam keadaan
hampa. sejenak paman itu terhenti menghapus air matanya yang mulai
keluar setitik demi setitik. Tak berapa lama beliaupun melanjutkan
kisah hidupnya.
Hingga suatu ketika aku berjumpa dengan seorang pemuda yang juga
sangat sukses dalam berniaga. Tapi entah bagaimana, pesonanya begitu
memikatku saat melihatnya. Dalam usianya yang belia, pemuda itu
memiliki charisma yang sangat dasyat. Semua rekan bisnisnya tulus
menghormatinya dan senang berbisnis dengannya, semua anak buahnya
begitu mencintainya, semua orang yang berada disekelilingnya begitu
hangat terhadapnya. Keadaannya benar-benar sangat berbeda 180derajat
dengan diriku. Bahkan keluargaku saja tidak semuanya tulus
mencintaiku. Saat itu aku benar-benar iri padanya dan ingn mengetahui
rahasia dirinya. Aku pun memikirkan strategi jitu untuk mengetahui
rahasia semua itu. Tapi jangan sampai pemuda itu tahu maksudku
sebenarnya. Ya gengsilah masa aku yang lebih tua belajar dari orang
yang masih terlalu muda dariku Akhirnya aku pilihlah untuk
berpura-pura mengadakan kerjasama bisnis dengannya. Pertemuan pun aku
atur sedemikian rupa agar tidak terkesan aku ingin mengorek-ngorek
rahasianya.
Tawaran bisnis ku disambut hangat oleh pemuda itu. Kami pun agak
sering bertemu untuk mengadakan deal-deal bisnis. Suatu hari dalam
pertemuan bisnis yang kami laksanakan begitu alot hingga menghantarkan
kami pada saat ashar. Dengan santun pemuda itu berkata "pak bagaimana
jika kita beristirahat dulu sejenak dengan menunaikan hak Allah atas
kita?" Seperti embun yang jatuh dipadang gersang rasanya
menghampiriku. Aku sudah lama sekali tidak sholat. Ya Allah. "Ya Allah
apakah ini rahasia pemuda tersebut?" ucapku di hati. Entah apa yang
membuatku menuruti usulan pemuda tersebut. Aku pun sholat berjamaah
dengannya. Padahal biasanya aku tak pernah mau mengindahkan ajakan
orang tuk sholat. Tapi entahlah ada apa dengan pemuda rekan bisnisku ini.
Seusai sholat ashar aku pun membuang rasa gengsiku dan memberanikan
diri bertanya padanya. "wahai anak muda sesungguhnya aku berbisnis
denganmu bukan karena ingin mengambil keuntungan melainkan aku ingin
tahu apa rahasiamu hingga orang-orang disekitar mu begitu tulus
mencintaimu? "
Begitu tawadhu pemuda itu berkata "Tak ada rahasia yang khusus pak
yang saya lakukan. Tapi setiap yang saya lakukan selalu saya niatkan
karena Allah dan semua harapan saya sandarkan pada-Nya. Saya selalu
mengingatkan diri saya bahwa saya ini tak ada apa-apanya tanpa karunia
Allah. Sehingga hal itu membuat saya terus mensyukuri nikmatnya
sekecil apapun yang Allah berikan. Hingga Allah menganugerakan
kelapangan hati dalam diri saya dalam memandang setiap persoalan
kehidupan.
Pembicaraan yang singkat namun begitu tepat mengena dihatiku. Aku jadi
tahu selama ini hatiku begitu hampa karena aku tidak mengenal Allah
dengan sebenar-benarnya pengenalan. Aku seperti robot-robot tanpa
jiwa. Sore itu membuatku bersemangat untuk mengenal Tuhanku dan
kembali ke jalanNya.
Aku teringat kali pertama aku mengenal Allah. Ternyata selama ini aku
benar-benar terbutakan oleh dunia. Sebelumnya aku tak pernah tahu
bahwa Allah itu begitu pencemburu, Allah maha tahu dengan apa yang
kulakukan meskipun aku bersembunyi dari mata manusia sekalipun, Allah
maha kuasa atas diriku dll. Dengan mengenal Allah, aku jadi faham
bahwa syahadat yang aku lantunkan meminta penunaian yang benar oleh
diriku. Astagfirullah ampuni hambamu ini wahai Allah. Kembali paman
itu terdiam dan menghapus airmatanya.
Setelah aku mengenal Allah aku mulai menyandarkan segala harapanku
padaNya. Karena aku faham bahwa segala yang terjadi padaku tak akan
pernah bisa terjadi tanpa persetujuanNya. Dan aku faham bahwa aku ini
berasal dari Allah dan Allah adalah tempat kembaliku jua. Sejak saat
itu Aku mulai menjaga sholatku, menjaga tutur kataku, menjaga sikapku,
dan menjaga diriku dan keluargaku. Akupun mulai menginfluence
orang-orang disekitarku untuk memiliki mindset yang sama dengan ku.
Benar kata sang pemuda itu, bahwa dada ini menjadi lebih lapang dalam
menghadapi segala persoalan hidup karena hati ini dipenuhi oleh
kecintaan padaNya dan karena kini sandaraku adalah sandaran terkuat
dijagat raya ini.
Pernah suatu ketika aku ditipu oleh rekan bisnisku hingga hampir
separuh harta bendaku terkuras. Alhamdulillah Allah menitipkan
kesabaran pada diriku, Saat itu aku hanya berpikir segala sesuatunya
berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah, harta ku itu hanyalah
titipan dan barang titipan pasti akan diminta oleh sang pemiliknya
suatu saat nanti. Mungkin inilah saatnya Sang Pemilik (Allah) meminta
titipan itu padaku. Mindset ini menjadikan ku lebih bijak dalam
menyikapi ujian ini. Seandainya aku belum menyandarkan segala
harapanku pada Nya tentu aku akan selalu marah-marah dan stress
dibuatnya. Namun atas rahmat Allah lah aku menjadi lebih bijak. Ya
Allah, aku benar-benar berharap kecintaan ini tak akan pernah pudar
dari taman hatiku. Paman itu kembali terdiam dan menangis sesenggukan
Dalam ujian kali ini aku tetap menjaga sholatku, menjaga tutur kataku,
mengjaga Allah dalam hatiku seperti saat dulu aku faham akan makna
cukup bagiku bersandar padaNya saat dimana aku berada dalam limpahan
harta karunia Nya. Allah memang baik, di segala ujian pasti terkandung
hikmah yang sangat indah. Dalam ujian ini aku mendapati keluarga yang
mencintaiku dalam ketulusan. Ya Allah terimakasih, Engkau menggantikan
yang hilang itu dengan mutiara yang begitu indah tak terkira. Ya Allah
terimakasih untuk tetap menitipkan kebahagiaan pada diri ini.
Seiring perjalanan waktu aku tetap menjalankan aktivitas bisnisku yang
sempat oleng. Dengan dukungan keluarga yang tulus aku menjadi lebih
giat berusaha. Tak lama berselang kira-kira setengah bulan dari
kejadian penipuan itu, Allah mengkaruniakan keuntungan yang 2x lebih
banyak dari harta yang hilang itu. Wahai Allah, janjimu memang benar
dan Engkau maha pemenuh janji. Sungguh aku mohon padaMu agar
menetapkan hati ini untuk senantiasa hanya bersandar pada Mu.
Itu adalah kisah hidup paman berwajah teduh tersebut. Aku begitu
takjub mendengarnya. Dan berharap dalam hati agar menjadi orang-orang
yang menyandarkan harapanku hanya pada Allah. Kulihat wajah ayah dan
paman-paman yang lain dipenuhi dengan air mata. Ada kerinduan diwajah
mereka. Dan sepertinya harapan mereka sama denganku. Wahai Allah
kutitipkan kebahagian ini pada secarik kertas harapan yang kutujukan
hanya pada Mu.
Senja pun mulai mengundurkan diri dalam peraduan hari petanda malam
kan menjelang. Kami semua bergegas tuk beristirahat memenuhi hak Allah
atas kami. Dan untukmu bunda, aku tlah menemukan salah satu hikmah di
dermaga keikhlasan ini. Sekian dulu surat dari anakmu esok disambung
lagi ya bunda. :-*
Wassalamu’alaikum
Salam cinta
Anak tersayangmu
tulisan ini terinspirasi dari mu wahai teman-teman ku yang telah
sharing pengalaman kalian akan bersandar hanya pada Allah. Semoga
ukhuwah kita tetap akan hangat dan semakin hangat. luv u all coz Allah.
ES
Mei 2008
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Cita-cita ingin mendidik anak2 kelak dengan cara seperti di atas… Ingin punya suami yg mau belajar menjadi seperti yang di atas… Sukses dunia akhirat..
Ya Rabb… hanya padaMulah kusandarkan segalanya… RAngkul aku ya Rabb.. BImbing aku….
_badut dedicated this post to her parents… Mah.. pah.. thanks a lot for the ‘trip’. Love you :") _
Entry Filed under: ^_^D'Journey to the holistic Success.... .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed