The Hardest Day

March 30, 2008

Tadinya mau nulis tentang blog ini udah dari lama banget. Karena peristiwa yang akan diulaspun udah terjadi sebulan lalu.. ya tepat sebulan yang lalu 29 Februari 2008. 

I think this is the hardest blog i’ve ever write, since what i’m going to talk about is The hardest day…

The hardest day…

Karena pada hari itu ketika Allah bisa saja memutuskan untuk tidak meneruskan detak jantung saya..

Karena pada hari itu ketika Allah bisa saja memutuskan untuk tidak membiarkan paru-paru saya untuk bernapas..

Karena pada hari itu ketika saya sedang meregang nyawa saya, dan berusaha bersiap karena mungkin saja pada hari itu saya harus menghadapNYA.

Dan ketenangan yang saya harapkan pada saat itu harus terusik karena ada satu ganjalan yang terus menghantui saya beberapa hari terakhir dari hari itu.

Hari itu saya mengalami syok anafilaktik…
Sebenarnya sebelumnya saya sempat mengalami serangan syok anafilaktik, bahkan dua kali dalam rentan waktu setahun, saya lupa kapan tepatnya mungkin sekitar 4-5 tahun yang lalu. Pengalaman yang sungguhh mengerikan sekaligus membuat saya takjub. Karena pada saat itu saya berkesempatan mengalami langsung praktikum mata kuliah faal / fisiologi, tentang bagaimana proses reaksi alergi yang paling hebat yang serangannya dapat menyerang siapapun kapanpun dan dimanapun, karena biasanya sebelumnya korban tidak mengetahui alergen yang dapat menyebabkan syok anafilaktik tersebut.

Riwayat syok anafilaktik inilah yang sempat membuat papa saya khawatir ketika akan melepas saya untuk PTT november 2006 lalu. Namun dengan berbekal beberapa ampul adrenalin, kortikosteroid dan alat suntuk dan juga dengan meyakinkan diri saya dan orang tua saya bahwa Insya Allah saya akan berhati-hati dan tahu pasti apa yang harus saya lakukan seandaikata saya mendapatkan serangan lagi. Dan Alhamdulillah saya baik-baik saja selama PTT di seberang pulau kategori daerah sangat terpencil yang kehigenisannya sangat meragukan menurut kebanyakan orang kota.

Kronologis:

Jumat pagi itu saya tiba di tempat praktek kira kira pukul 10.30. Karena sebelumnya ada keperluan yang harus saya selesaikan di ATM. Selama di perjalanan sebenarnya perasaan saya sudah tidak enak, apalagi badan saya juga sedang tidak fit akibat diare beberapa hari terakhir. Sempat terbesit untuk kembali pulang namun saya urungkan niat itu karena saya tidak mau ‘manja’ terhadap diri saya.

Setelah sampai di tempat praktek seperti biasa saya menyiapkan ruangan. Saya menyalakan kompressor, dan kemudian segera setelah itu tiba-tiba saya merasa leher dan kuping saya terasa gatal dan rasa gatalnya pun dalam hitungan beberapa menit saja terasa menghebat. Ketika saya melihat wajah saya di cermin sungguh saya kaget, muka saya sudah memerah.. Oke.. deJavu.. dengan sigap saya menuju ke tempat praktek dokter umum di seberang ruangan saya setelah sebelumnya saya juga sempat mengejutkan pegawai apotek dengan penampilan wajah saya yang sudah memerah bak udang rebus.

Saya ceritakan secara singkat tentang riwayat syok saya sebelumnya kepada dokter dan segera minta untuk disuntikkan adrenalin. Namun sayang sekali stok adrenalin tidak ada di apotek dan saya pun hanya disuruh untuk minum antihistamin dan kortikosteroid per oral. Bukannya saya meremehkan tapi saya sudah pernah mengalami syok anafilaktik ini dua kali sebelumnya dan obat2an tersebut betul2 tidak mempan untuk reaksi sehebat ini, namun saya coba saja minum obat2 tersebut dengan harapan bisa membantu. Kemudian saya pun segera menelpon papa yang kebetulan sedang dalam perjalanan. Setelah mendengar keadaan saya, papa langsung memutar arah mobilnya untuk mencari adrenalin injeksi dan melaju menuju tempat praktek saya.. Betul-betul ayah yang siaga.. (love you soo much paah..^.^)

Sembari menunggu papa, saya dibaringkan di tempat tidur kamar praktek. Si dokter pun terus memantau saya dengan cemas karena obat yang saya minum lebih setengah jam yang lalu tampaknya benar-benar tidak bekerja. Biduran-biduran di sekujur tubuh saya semakin muncul secara hebatnya, belum lagi rasa gatal yang ruaarrr biasa membuat saya sibuk menggaruk-garuk sana sini, sampai2 pangkal kuku di tiap2 jari saya terasa sakit.

Waktu berjalan terasa begitu lambat, saya merasakan keadan saya semakin melemah saja, dokter yang terus memantau nadi dan tensi saya pun mulai menunjukkan muka paniknya. Terlebih-lebih ketika saya mulai berhenti menggaruk-garuk karena lelah…

"Put, kamu kalo mo pingsan bilang-bilang yaa…"

Duuhhh… instruksi dokter yang benar-benar lucu sekali, namun hanya bisa saya respon dengan mengangguk ringan sembari tersenyum irit…

Keadaan fisik saya memang semakin melemah, tapi saya ingat sekali bahwa pikiran saya pada saat itu benar2 melanglang buana ke mana2. Hingar bingar tentang kematian Gito Rolies yang terjadi sehari sebelumnya santer terdengar dari acara infotainment  TV di luar ruangan. Seperti yang semua orang tau, mantan rocker yang telah menjadi pendakwah tersebut meninggal Insya Allah dalam keadaan khusnul khatimah, sungguh beruntungnya beliau. Kemudian angan-angan kembali kepada saya, kematian sempat memenuhi kepala saya saat itu. Membuat saya tidak henti-hentinya untuk menggemakan asmaNYA di hati dan di gerak bibir saya, karena bisa saja ‘giliran’ saya tidak lama lagi. Kemudian tidak terasa titik air mata mulai berjatuhan, saya pejamkan mata saya dan tak henti-hentinya saya berdoa

"Ya Allah, aku ridha, aku pasrahkan kepadaMU akan semuanya.. Berikan kebaikan dan ketenangan kepada’nya’ di sana Ya Allah.. Aku ikhlas dengan keadaanku, maka berikan ketenangan kepadaku ya Allah… Aku hanya mengharapkan ridhaMu, ridhaMu, dan ridhaMU ya Rabb.."

Kegalauan saya beberapa hari itu betul-betul mengusik ketenangan saya, betul-betul menguras energi jiwa dan raga saya. Ironis memang. Pertemuan terakhir saya dengan ’seseorang’ itu sungguh sangat tidak mengenakkan hati. Padahal saya sudah (berusaha keras tuk) berpasrah akan segalanya. Namun ternyata usaha saya belum cukup untuk dapat menenangkan batin, apalagi menggembirakan raga.

Keadaan saya belum menunjukkan ke arah yang membaik.. malah sebaliknya.

Saya mulai merasakan sedikit sulit untuk bernapas..
Pada reaksi syok anafilaktik terjadi vasodilatasi pembuluh darah, inilah yang menyebabkan biduran / bengkak2 / oedem di sekujur tubuh.. Dan fatalnya adalah ketika ‘bengkak’ ini mengenai saluran pernapasan, dapat menyumbat saluran pernapasan dan berujung kepada kematian.

Sekuat hati saya memerintah otak saya untuk tetap tenang dan pasrah sembari terus menggemakan asmaNYA dalam hati dan gerak bibir saya..

Tidak lama kemudian papa datang, setelah basa basi permisi dengan dokter jaga, papa minta izin untuk langsung menyuntik saya yang semakin terkulai lemah hingga suntikkan yang biasanya membuat saya ciut dan merengek manja pun tidak sanggup saya gubris.

Setelah melihat keadaan saya semakin membaik saya pun dibopong pulang. Terpaksa saya batalkan janji pasien hari itu, untung saja pasiennya pengertian, mungkin ia pun tidak tega melihat dokternya sakit lebih parah.

Setiba di rumah, mama menyambut dengan muka ’sok tenang pdhal khawatir’ khasnya.. Dan saya pun tanpa banyak bicara langsung terlelap puas, rasa kantuk dan lelah akibat obat mengalahkan kegalauan hati saya…

Begitulah kronologis syok anafilaktik yang ke 3 dalam hidup saya… Apakah ‘ujian’ saya telah selesai pada hari itu.. Ternyata belummm.. Malamnya saya mengalami serangan yang ke-4 .. Yupe.. dalam sehari saya mengalami DUA KALI serangan…

Malam harinya saya mengalami serangan yang lebih parah… KEadaan perut saya yang tidak bersahabat turut mermaikan kerusuhan yang terjadi dalam tubuh saya. Kira-kira jam 11 malam. Sekujur tubuh saya mulai gatal kembali. Disusul dengan diare hebat. Saking hebatnya seperti seluruh cairan dalam tubuh saya terkuras ludes. Keluar dari kamar mandi badan saya terasa menggigil. Muka dan telapak tangan saya sangat pucat dan seperti membiru.

Keluar dari kamar mandi, saya mulai kehilangan keseimbangan saya, sekeliling saya terasa sepert berputar-putar, segera saya maenjatuhkan diri saya ke tempat tidur. Saya begitu merasa kedinginan. Saya meringkuk lemas sembari menggigil hebat. Pandangan mata saya sesekali terasa kabur.. Melihat keadaan saya papapun dengan segera memutuskan untuk kembali menginjeksi saya dengan adrenalin, namun sayang  papa tidak membawa perlengkapan suntiknya sehingga papa pun harus ke tempat praktek dulu untuk membawa alat suntik. Sementara mama membuatkan saya teh manis hangat untuk menggantikan cairan tubuh saya…

Saya benar-benar sangat tidak berdaya kali ini. Jangankan untuk menggaruk, untuk mengangkat tangan saja rasanya saya tidak sanggup walau keinginan untuk itu sangat besar. Fisik saya memang drop, tapi saya ingat sekali bahwa pikiran saya pada saat itu sangat sadar.. sesadar-sadarnya kesadaran. Membuat otak saya untuk selalu termotivasi untuk tetap tenang dan berpasrah, membuat saya tidak berhenti untuk berkomatkamit  menggemakan asmaNYA. Berpasrah akan apa-apa yang akan  menjadi kehendakNYA… Karena saya kembali tersadar mungkin inilah saat saya…

Kemudian tidak dapat dihindari, si ‘dia’ pun lembali terlintas, tentang masalah kami yang buat saya pribadi belum terselesaikan, mengusik ketenangan saya yang sedang mati-matian TOTAL berpasrah.. Pada saat itu saya kembali mengulang-ulang doa saya tadi siang,

"Ya Allah, aku ridha, aku pasrahkan kepadaMU akan semuanya.. Berikan
kebaikan dan ketenangan kepada’nya’ di sana Ya Allah.. Aku ikhlas
dengan keadaanku, maka berikan ketenangan kepadaku ya Allah… Aku
hanya mengharapkan ridhaMu, ridhaMu, dan ridhaMU ya Rabb.."

Entahlah.. demi Tuhan yang saya inginkan tidak muluk2, apapun itu bentuknya, saya ingin akhir yang baik-baik.. tidak menyisakan sedikit ganjalan yang dapat mengotori hati.. sudah itu saja..

Ya Rabb.. Jika ada orang yang mengiinginkan ketenangan dan kedamaian dalam hidupnya.. apakah saya berlebihan jika saya menginginkan ketenangan dan kedamaian dalam kematian saya….

Papa kemudian datang dan segera kembali menginjeksikan ampul kedua adrenalin buat saya hari itu… Kali ini efek kerja obat tersebut terasa bekerja lebih lambat. Kepala saya masih terasa sangat berat, pusing luar biasa, mual-mual namun tidak ada yang bisa saya muntahkan juga. Saya masih meringkuk kedinginan. Papa terus memantau nadi saya, menggosok-gosok kaki saya yang kedingianan sambil memijat titik reflesi di sekitar jari-jari kaki saya. Mama menyelimuti saya yang masih menggigil, sambil menggenggam tangan saya.

Saya masih sibuk berdzikir dan berdzikir, tidak mau terhenti sedetikpun tuk terus menyebut namaNYA, beristighfar, tahlil, dan tahmid dan juga saya ulang-ulang doa saya tersebut. Sesaat saya buka mata saya. Di saat genting ini saya didampingi orang2 yang sangat saya cintai, yaitu kedua orang tua saya. saya bisa merasakan mereka yang tenang dan pasrah terhadap saya… Entahlah jika memang saya ‘pergi’ saat itu saya bisa tenang karena mereka tanpak merelakan saya. HAru sekali suasana yang saya rasakan saat itu, membuat tetesan air mata yang setengah mati saya tahan tidak terbendung..

Mama dan naluri keibuannya yang lembut masi  menggenggam tangan saya yang kedinginan, kemudian dengan sapu tangan mama menyeka air mata saya… Semakin meruntuhkan tembok pembendung ketegaran saya.. Seketika tangisan saya pun meledak.. saya terisak-isak.. tetesan air mata berubah menjadi aliran yang menderas.

"Nak.. sabar ya nak.. ceritalah sama papa dan mama.. kita akan dengarkan nak.. jangan kamu pendam sendirian, badan kamu yang terus2an jadi korban nak… Keluarin aja"

Kalimat mama membuat saya tersentak.. mama seakan-akan tahu isi kepala saya. padahal saya tidak menceritakan apapun. Namun mungkin insting keibuan mama yang mendeteksinya. Belum lagi seharian itu memang saya banyak merenung dan menatap kosong ke semua tujuan mata saya memandang… dan sesekali tetes air mata yang meluncur tak sengaja sesekali tertangkap oleh penglihatan mama.

"Kamu udah ketemu lagi sayang dengan ‘dia’…?, Gimana kelanjutan tentang kalian? Ceritakanlah nak.. mama papa akan dengarkan" 

Kali ini mama menanyakan dengan sedikit bergetar.. Saya sudah terlalu lemah untuk bisa merespon pertanyaan2 mama yang sangat di luar dugaan saya. Seandainya ada yang bisa saya ceritakan..

Karena masalahnya sekarang adalah bagaimana saya bisa merelakan semuanya begitu saja. Saya seperti tidak diizinkan untuk ‘menutup’ ini dengan cara yang baik-baik… Itu saja masalahnya.. Masalah yang sangat simpel namun begitu hebat dapat menjadi ganjalan d hati saya. Saya betul-betul menginginkan semua yang terbaik dan yang diridhaiNYA, apapun itu bentuknya.

Alhamdulillah.. tak henti-henti puji syukur saya haturkan kepadaNYA.. saya masih diberikan kesempatan untuk kembali meneruskan perjalanan di bumiNYA yang indah ini.. Saya masih berkesempatan untuk memberbaiki semuanya… Terima kasih ya Allah….

Yang pasti saya sepertinya tidak sanggup harus berakhir dalam keadaan yang sangat tidak mengenakkan hati seperti ini.. Saya inginkan juga ketenangan dan kedamaian itu..

Dan saya butuh kau sadaraku.. HAnya kau seorang untuk dapat membantuku… Bukan yang lain…. Saya insya Allah (99%) ridha dan ikhlas dengan apapun bentuk yang akan saya hadapi.. entah itu suatu kepastian atau bahkan keragu2an sekalipun, akan saya terima dengan ikhlas… Kita bicarakan ini dengan baik2… hingga jika nanti terjadi sesuatu.. Saya dan kamu bisa tenang.. karena sudah tidak ada lagi hal yang mengganjal…. Saya bisa dengan ringan melangkahkan kaki ini kemanapun… Begitupun dengan dirimu.

Saya paham kamu butuh waktu.. namun pergunakanlah waktumu sebaik-baiknya… Ilmu agama saya mungkin masih dangkal. Namun saya teringat agama pernah mengajarkan bahwa niat baik itu sebaiknya disegerakan.. Tahu kenapa? karena mungkin saja waktu kita memang tidak banyak… Karena jarak waktu memberikan kesempatan bagi setan untuk menyempil2… Hingga akhirnya kebimbangan kembali merudungmu dari keyakinan yang sebenarnya telah allah sampaikan padamu…

Teruntuk sahabatku… Dear sis…. I’m never judging your comments at all.. untill that day… Saya benar2 tersundut ketika kau mengatakan kalau usaha yang saya lakukan hanyalah sebuah ‘obsesi’ belaka.. Sis, You’re my treasure.. One of my nicest pal… Gak semua orang beruntung seperti saya memiliki sahabat seperi kamu sis…. Yang senantiasa tulus mendoakan saya…. Kamu salah satu yang terdekat dengan saya.. namun kadang orang terdekat lah yang memberikan sentilan terhebat… Maafkan kalau hari itu saya agak emosi… Tapi sungguh.. itu hanya kesalahpahaman saja.. Saya mau kamu juga memahami saya.. Saya berkali-kali didekatkan kematian.. Malaikat maut mungkin sempat mengintip saya pada hari itu… Ini saya anggap karuniaNya buat saya.. saya hanya ingin tidak ingin ada ganjalan dan menjadi ganjalan siapapun.. Salahkah niat saya itu sis?

Tolong pahamilah saya… Sayapun ‘ngeri’ dengan yang saya alami… Saya hanya inginkan kebaikan untuk semuanya.. Demi Tuhan hanya itu…. Entah apa yang membuatmu berpikir kalau saya ini ‘terobsesi’.. saya sedih sekali kalau mengingat hal itu.. Tapi saya pun paham.. saya sadar yang saya alami mungkin tidak sepenuhnya dapat dimengerti orang hingga penilaian yang kamu berikan pada saya bisa seperti itu… Gak papa… kita sama2 belajar memahami orang yaa sis… I’ll always loving you as my sister…. please never stop to prayin for me.. would you…. ^_^

Dan ‘untukmu’ lagi…. Saya selalu mendoakan yang tebaik untukmu.. Jujur.. saya selalu mengharapkan ‘itikad’ baikmu untuk ‘menutup’ ini dengan sangat baik-baik … (apapun bentuknya itu).. Saya menunggu di sini.
Allah yang telah menuntun saya kepadamu… Dan kalaupun akhirnya Dia melakukan yang sebaliknya saya pun rela… DEmi Tuhan saya Ridha….. Begitu saja.. sesimpel itu saja.. tidak ada hal perlu kita herankan… Ketika kau membiarkan Allah-lah yang benar-benar menjadi atasan kita.. Maka biarkanlah hanya Dia yang ‘memutuskan’..  Kita netralkan diri dan hati kita… Saya mengerti sharing dengan sahabat memang meringankan.. namun kadang hal tersebut malah membuat saya semakin bimbang.. entahlah.. setidaknya itu buat saya pribadi. Ketika saya mengurangi ‘curhat’ saya ke orang dan TOTAL mempasrahkan segalanya hanya kepadaNYA.. Ketika saya benar-benar NOL .. Allah semakin menunjukkannya kepada saya ‘jawaban’ dari kegalauan itu… Karena yang akan menjalani ini adalah KAMU, maka biarkan Kamu dan Allah saja yang terlibat… Yakinlah..

Saya selalu berdoa yang terbaik untuk semua…
Saya percaya denganmu.. kamu pasti bisa menangani ini.. hingga dapat memutuskan yang terbaik apapun itu bentuknya… saya sungguh percaya padamu…amiiien…

29 Maret 2008

_badut mohom maaf yaa klao selama ini jadi melibatkan yang lain, tolong dukungannya.. karena niat baik itu sebaiknya disegerakan pelaksanaanya .. tenks eniwei_

Entry Filed under: Uncategorized. .



8 Comments Add your own

  • 1.    Nurul inong  |  March 30th, 2008 at 11:27 pm

    Put,gw kaget baca cerita lo.. Such a tough woman u are..

  • 2.    LIPGLOZZ  |  March 31st, 2008 at 7:31 am

    duuhh darlin, gw pas baca yg bengong jadinya, putii lo gpp kan?? duuhh put..allah emang sayang lo banget ya, lo sabarr yaa..gw percaya apapun pertanyaan lo, nanti bakal ada jawabannya..aminnn.

    ahh sedihhhh…:(

  • 3.    puspita  |  March 31st, 2008 at 8:57 am

    MasyaAlloh Puti…
    Begitu baca buletin klo isi blog ini muatannya serius,justru malah kepengen baca n tau masalah serius apa yg bikin Puti nulis serius.
    And then,,I almost didn’t believe that,,,jadi wajar klo aku merinding n hampir nangis bacanya.

    Apapun masalahnya put, ga tau ini nyambung atau engga, just believe this…”Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia dlm keadaan beriman, mk dia tdk khawatir akan perlakuan zalim thdnya & akan pengurangan haknya” (Q.S. Taha:112)

    Btw, You have such lovely parents :) Semoga Alloh mengampuni segala dosa2 & snantiasa meridhoi qta n keluarga sampai akhir hayat, amin Ya Alloh…

    Love you Puti…maafin klo ada salah2 kata ya..^_^

  • 4.    Tony  |  April 1st, 2008 at 10:33 am

    waduh Put… Alhamdulillah you could pass through semuanya dan bisa nulis blog ini.Jadi knp put gara2nya alergik itu? karena pikiran kah? ada pengaruhnya sama pikiran? atau lingkungan? makanan? atau randomly happen? Kalo memang karena pikiran, mending lo cepet2 beresin deh put masalahnya. *ngomong sih gampang yah:p*
    Gw cuma bisa berdoa semoga lo dikasih yang terbaik deh put, apapun dan bagaimanapun hasilnya pasti ada hikmah dibaliknya. Ok put? Cheers up yah put, kaya zaman masih muda dulu :D Kumpul-kumpul lagi nyok put!!! Kemana gt kek, udah gede ini :p *dah mulai ngaco deh commentnya, lo sih nyuruh baca blognya tengah malem gini :D Pokoknya lo musti yakin hidup lo much more valuable rather than just think about someone may not deserve you at all. *halah*

  • 5.    Tony  |  April 1st, 2008 at 10:53 am

    Oh iya put ada yg kelupaan, dr.Grey pernah bilang: “If he doesn’t love you the way you love him, then he doesn’t deserve your love”

  • 6.    uk  |  April 2nd, 2008 at 8:32 pm

    Put, maafkan aku yg br baca blogs mu ini.. gw ga tau kl trnyata keadaannya spt itu. slama ini gw pikir sakit mu, dan hubunganmu dgn si pria itu hal yg biasa-biasa saja. nothing to be worried. tp gw salah ya put..

    Maaf ternyata smuanya seberat itu. gw yakin lo bs ngejalaninnya smua dgn hati yg tenang. ‘coz u r so tough huney!!

    Masing-masing kita punya takdir yg berbeda. dan Allah dah menyiapkan smuanya. well, gw cuma bs berdoa mudah-mudahan yg dikasih oleh-Nya adalah yg terbaik buat lo, buat kita smua.. amin..

  • 7.    Analia Yuri  |  April 7th, 2008 at 11:27 am

    Put.. I dont believe it`s you… Aku gak nyangka seorang puti yang ceria bisa mengalami hal ini dan menyikapi dengan sangat dewasa dan sabar…. AKu sampai terharu dan banyak belajar dari kesabaran dirimu… Semoga semuanya bisa berakhir baik yah… AMien…

  • 8.    Ridzki  |  June 10th, 2008 at 5:19 am

    putiiiii…
    pengalaman syok lo serem bgt siy…
    ajari akyu duong supaya bisa ikhlas spt dirimyu….
    kangen d sm elo…

Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2008
M T W T F S S
« Feb   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts